“Politisisasi” dalam Kehidupan Politik

Ketika mentari masih malu-malu dalam menunjukkan dirinya, orang-orang sudah lalu lalang di jalanan. Sebagian sudah mulai mencari rezeki, sebagian lagi masih membagi rezeki, tentu saja dalam bentuk belanja kebutuhan di berbagai pasar setempat. Aku mengamati sekilas, dan tetap di tempatku, memenuhi perut dengan beberapa iris roti, sembari menghangatkan diri sambil meneguk secangkir kopi.
 

Hari ini, aku mendapatkan sebuah istilah ‘baru’. Istilah yang menarik bagiku, dan memancing minatku untuk merenung sejenak. Istilah itu adalah Politisisasi.

 

Istilah ini tentu bukan barang baru bagi orang yang telah bergelut dalam dunia politik, tetapi tentu baru bagiku yang baru saja memulai langkah untuk memahami ilmu politik secara lebih mendalam.

 

Istilah ini merupakan gabungan dari dua kata dasar; politisi dan –isasi. Artinya tentu saja jelas; politisi adalah istilah yang merujuk pada aktor/tokoh yang berperan dalam dunia politik, baik secara langsung dalam wujud keaktifan di dalam partai politik maupun secara tidak langsung dalam peran di dalam kelompok kepentingan (Walhi, ICW, dsb.). Sementara –isasi adalah tambahan kata pada suatu kata benda yang berarti suatu proses. Berarti, politisisasi adalah suatu proses yang dilakukan kepada seseorang atau suatu kelompok dengan menanamkan pemahaman politik agar seorang atau kelompok tersebut paham (melek) politik.

 

Istilah ini saya temukan ketika membaca buku Perbandingan Sistem Politik karya Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews (1978). Buku ini menjelaskan tentang paradigma pendekatan sistem untuk menganalisis suatu sistem politik, yang dikemukakan pertama kali oleh David Easton, seorang ilmuwan politik dari Amerika Serikat. Pendekatan sistem ini sangat menarik bagi saya karena memiliki bagan-bagan. Sebagai seseorang yang lulus sarjana dari jurusan teknik, kami (para sarjana teknik) tentu lebih tertarik pada sesuatu yang memiliki bagan (algoritma).

 

Di buku tersebut dijelaskan bahwa, politisisasi merupakan sebuah “cadangan-dukungan” yang penting bagi sebagian besar pemerintah. Apakah itu “cadangan-dukungan”? Singkatnya, “cadangan-dukungan” adalah sumber dukungan pokok yang dimiliki oleh suatu pemerintahan untuk menjalankan roda pemerintahannya sesuai dengan arah/garis kebijakan yang ia inginkan. Cadangan-dukungan ini sebegitu pentingnya bagi pemerintah, agar ia dapat memilah/menyaring berbagai tuntutan yang datang kepadanya, sehingga tidak semua tuntutan tersebut berbuah menjadi keputusan (kebijakan/policy). Pemilahan tuntutan ini tentunya penting agar roda pemerintahan yang ia/mereka jalankan tetap berada dalam garis politik yang telah ditetapkan.

 

Politisisasi ini, singkatnya, adalah proses penanaman pemahaman politik kepada seseorang atau suatu kelompok/komunitas. Proses ini tentunya tidak singkat, melainkan suatu proses yang panjang. Proses pemahaman politik tersebut dimulai, langsung maupun tidak langsung, semenjak usia dini. Dan, biasanya mengalami percepatan pada usia belasan tahun. Melalui proses itu, seorang individu belajar untuk memainkan peranan politiknya, dan dalam proses itu terlibat juga penyerapan atau peniruan sikap-sikap politik yang tepat. (Mas’oed dan Andrews, 1978). Politisisasi ini, adalah proses yang menjadi kewajiban dari pemerintah. Tidak hanya itu, ia juga menjadi kewajiban bagi setiap kelompok politik, khususnya partai politik.

 

Meskipun demikian, seringkali aktivitas politisisasi ini berlangsung efektif bukan di dalam kegiatan-kegiatan partai politik, melainkan dari aktivitas sehari-hari baik di lingkungan berkegiatan maupun di dalam keluarga. Dan dari dalam keluarga pula, politisisasi ini berlangsung dengan lebih efisien. Itulah mengapa, jamak ditemukan bila seorang kepala keluarga memilih partai politik tertentu, maka istri dan anak-anaknya akan memilih partai tertentu itu pula. Di Amerika, kasus paling jelas adalah keluarga Bush; Bush senior hingga Bush junior seluruhnya adalah kader Partai Republik. Di Indonesia, kasusnya lebih unik. Yang jamak disini bukanlah keseragaman dalam memilih partai politik, tetapi lebih ke dalam mazhab keagamaan. Biasanya, jika seorang kepala keluarga adalah seorang Muhammadiyah, maka seluruh keluarganya akan bermazhab Muhammadiyah, dan hal yang sama berlaku untuk organisasi kemasyarakatan lainnya (NU, Al Washliyah, dsb.).

 

Apakah studi kasus di Indonesia merupakan suatu kemunduran/keterbelakangan? Saya rasa tidak. Itu hanya menjadi sebuah kasus umum yang menarik. Keseragaman dalam memilih mazhab/ormas, biasanya, diikuti dengan keseragaman dalam memilih partai politik, sekalipun belum tentu sama. Seperti yang diketahui, sekalipun PAN mengklaim sebagai wadah aspirasi politik golongan Muhammadiyah, namun kita masih menemukan seorang Airlangga Hartanto, seorang jajaran PP Muhammadiyah, dalam jajaran kepengurusan Partai Golkar. Dengan begitu, apakah peran politisisasi yang seharusnya dilakukan oleh partai politik menjadi gugur? Tentu tidak. Partai politik, tentu tetap memiliki kewajiban untuk melakukan politisisasi kepada masyarakat. Jamak ditemukan di Indonesia, partai politik bekerjasama secara langsung maupun tidak langsung, kepada suatu Ormas/OKP dikarenakan peran politisisasi tersebut lebih efektif dilakukan oleh Ormas/OKP tersebut daripada yang dilakukan oleh parpol. Dan tentu saja, politisisasi yang dilakukan oleh partai politik erat kaitannya dengan kaderisasi politik, yang memiliki tujuan akhir berupa rekrutmen dari parpol yang mengadakannya.

 

Puncak dari politisisasi ini adalah jika seseorang bersedia untuk menjadi seorang politisi praktis, dalam artian ia/mereka memasuki dunia politik dengan menjadi kader dari suatu partai politik. Tentu saja hal itu dengan didasari oleh suatu kesadaran bahwa dengan beraktivitas di partai politik lah, anda/ia bisa terlibat aktif dalam urusan pemerintahan. Sekalipun tujuan tersebut, bukan lah mutlak. Karena bisa saja seseorang yang mengalami politisisasi ini lebih memilih untuk aktif di dunia luar, dalam kelompok kepentingan. Apapun pilihannya, tentunya itu didasari oleh perhitungan yang rasional dan mendalam.

 

Jadi, darimanakah sebaiknya politisisasi itu dimulai? Seperti yang telah disampaikan pada paragraf sebelumnya, mulai lah proses politisisasi itu dari wilayah dengan keefektifan dan keefisienan tertinggi; keluarga. Partai politik tentunya perlu mewajibkan kepada seluruh kadernya untuk melakukan politisisasi kepada seluruh anggota keluarganya. Dan jika perlu, tidak hanya ke keluarga, melainkan kepada seluruh tetangga dan masyarakat lingkungannya. Dalam proses ini pula, tentunya perlu adanya faktor kecakapan dalam komunikasi politik. Di sinilah perlu nya peran partai dalam melakukan kaderisasi kepada setiap anggotanya. Sehingga komunikasi politik kader-kadernya, bisa efektif diterima di masyarakat.

 

Aktivitas politisisasi ini bisa saja dimainkan oleh pihak lain; media massa. Namun, itu memerlukan pembahasan tersendiri, dan tentunya, lebih/cukup rumit.

 

Mengingat pentingnya proses politisisasi ini, perlu lah kira nya setiap aktor/pemain politik, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang lama maupun yang baru, untuk memulainya. Bahkan perlu kiranya ini dilakukan oleh seseorang yang baru saja melek politik. Dengan tingkat melek politik yang tinggi, tentu bisa kita harapkan terciptanya seuatu kehidupan berbangsa dan bernegara yang cerdas lagi mencerdaskan.

 

 

 

Sekian,

Ilham Arif, ST

Mahasiswa pascasarjana Fisip UI

Saya dan Timpanoplasti

Saya beranikan diri menulis tentang pengalaman timpanoplasti. Iya….soalnya saya sendiri kesulitan cari-cari referensi tentang pengalaman operasi timpanoplasti orang-orang. Ada beberapa sih.. namun lebih kepada sharing perasaanya setelah operasi. 

Bermula dari bermain air. Duluuu saking senangnya main air, berenang, mandi di dalam bak..yaa telinga saya jebbbol. Malu? Hmmm, waktu kecil mungkin belum ngerti ya. Mulai masuk SD, saya nekat tetep berenang walau dokter udah ngasih fatwa haram saya untuk berenang 😓 akibatnya, telinga infeksi. Kemudian sembuh, renang lagi, infeksi lagi, sembuh, renang lagi, infeksi lagi 😅 baru deh mulai mengerti, malu ya…karena efek dari infeksi ini selain sakiit juga telinga berair. Mulai deh malu, diketawai udah biasa. Tapi seiring waktu berlalu, saya “berteman” dengan kondisi ini. Sampai lah saya ga pernah lagi infeksi dari SMP sampai kuliah, Alhamdulillah.

What is tympanoplasty?

Kata wikipedia, Tympanoplasty is the surgical operation performed for the reconstruction of the eardrum (tympanic membrane) and/or the small bones of the middle ear (ossicles).

A.k.a operasi nambal telinga tengah yang rusak. Telinga saya pun akhirnya rusak setelah berkali-kali infeksi itu.. salahnya saya dulu adalah membiarkan kondisi ini berulang bahkan berani ngorek telinga sendiri. Padahal itu gak boleh! 

Timpanoplasti dilakukan pada kondisi perforasi atau kerusakan pada membran timfani (gendang telinga) yang mencapai > 50%. Penyebab rusaknya bisa banyak yaa, di google lengkap bangett hehe. Dan tentu harus atas saran dari dokter. Pada timpanoplasti, Membran timfani ditambal dengan jaringan lemak, ngambil dari sekitar telinga juga. 

Setelah menikah, suami support saya untuk operasi ini. Karena biaya yang ga sedikit, saya coba pakai BPJS. Mulai lah urus BPJS. Sebulan setelah proses bikin BPJS, kartu di tangan, saya datang ke klinik dan langsung dirujuk ke RS tingkat 2. Di RS tingkat 2, saya disaranin operasi deh akhirnya… dokter Syamsul waktu itu juga sangat support dan ga nakut-nakuti, beliau bilang “okee saya rujuk ya ke RSHS karena alatnya adanya di sana. Paling setengah jam lah selesai..” tenaaang sekali rasanya. Sampai saya langsung proses ke RSHS besoknya.

Di RSHS menuju klinik THT dan di hari itu juga saya tes audiometri atau tes pendengaran dan diminta ke radiologi juga untuk ambil foto Schuller & Stanver (yang dirontgen saat itu bagian kepala saya). Karena saya anaknya gamau ribet, setelah tes dengar, saya pulang dan niat datang dua hari kemudian untuk ke radiologi. Kenapa dua hari? Biar bisa antri via telepon, jadi ga usah antri manual di loket pendaftaran 😁

(Nomor call center RSHS 022-2551111, harus minimal daftar 2 hari sebelumnya)

Oia, saya sengaja daftar periksa di hari yang sama dengan ambil hasil tes-tes itu. Supaya ga bulak-balik banget. Kali ini saya datang ke klinik Otologi. Kemudian periksa sama dokter yang superramah. Di hari yang sama itu, saya juga melakukan patch test atau tes tambalan di gendang telinga. Gendang telinga saya dipasangi kertas filter yang tipiiss dan memang sama tipisnya dengan membran timfani. Setelah patch tes, saya masuk lagi ke klinik audiologi untuk tes audiometri mengukur apakah ada perubahan sebelum dan setelah patch test. Hasilnya? Wow…saya baru sadar ternyata selama ini telinga saya kurang denger. Hmmm…ga kerasa, mungkin karena dari kecil..pengurangan pendengarannya sedikit-sedikit. Hmm iya sih, kalau terlalu pelan suaranya saya kurang denger..tapi sejauh ini ga jadi masalah kecuali pas udah nikah dan suami ngeh kalau saya kurang denger ternyata. Heuheu.

Setelah patch test saya disuruh datang lagi untuk jadwal operasi. Seperti biasa, saya datang dua hari kemudian, tanggal 29 Agustus. Dokter kemudian menentukan jadwal operasi. Pas saat itu, ada pasien lain yang sudah terjadwal operasi tanggal 9 September, namun pasien tersebut mungkin berhalangan di tanggal itu. Jadilah si dokter melirik saya, “mau ga tanggal 9 aja operasinya?” Wew….itu dua minggu lagi kupikir dan pas miladnya suami.. udah rencanain sesuatu padahal. Setelah ditimbang karena ingin segera pulih, saya iyakan. Dan hari itu langsung dikasih rujukan ke lab untuk tes urin 24 jam dan tes darah. Tes urin ini untuk melihat apa saya punya diabetes, karena kalau punya diabet ga boleh timpanoplasti. Kalau tes darah, biasa ya..untuk melihat apa kita punya hiperagregasi atau yang lainnya.

Hari kamisnya saya ke otologi lagi untuk ngasi hasil tes darah, tes urin dan acc dari anastesi. Setelah ketemu dokter ngasih hasil, ya saya pulang, tinggal nunggu kapan lagi saya ke RS.

Hari Jumat, jam9 lagi tenang-tenang di rumah, beres-beres dan lain-lain. Telepon berdering dan ternyata dari dokter di otologi. Katanya, saya operasinya maju jadi tanggal 6 september, hari selasa. Saya harus ke otologi pagi itu juga. Saya pun datang ke RS untuk cari ruangan rawat inap. Setelah sampai……itupun disuruh cepet-cepet, katanya ruangan inap saya udah ada menggantikan pasien lain, tapi operasi maju jadi hari senin dan artinya hari itu saya harus mulai dirawat. ?????? 🙇🏻

Qadarullah, rezeki dari اَللّٰهُ juga saya ga usah ribet cari ruangan. Alhamdulillah..

Saya segera telepon suami, orang tua dan kabari mertua. Mereka support. Sorenya saya ke rs deh bawa-bawa baju untuk 5 hari. Sendirian 😄 supermendadak sih.

Hari berlalu dan tibalah hari senin pukul 00.00, saya harus puasa karena akan dianastesi total (bius total). Oia sayapun harus mandi dengan sabun khusus dikasih sama suster (eh suster laki-laki, Bruder gitu ya kl ga salah?) Paginya sekitar pukul 06.00, saya dipasangi infus dan disuntikkan obat…yang setelah itu rasanya puyeng, pengen tidur aja. Ga lama saya dibawa ke ruang operasi, sambil masih keleyengan. Ganti baju operasi..diajak ngobrol sama dokter kayaknya ya, dan disuntikkan lagi obat bius, setelah itu ga sadar sampai pukul 14-an, masih keleyengan dibawa ke ruang rawat lagi. Di ruang rawat tidur bangun-bangun pukul 17-an dan belum shalat 😭 langsung kabari suami (suami di depok).. karena masuk rukhsah, saya jamak setiap shalat. Wudhu pun masih tayamum.

Besoknya Alhamdulillah saya boleh pulang, tapi keleyengannya masih ada 😓

Kontrol lagi tiap satu minggu sebanyak 2x, lalu dua minggu, lalu sebulan. 😊

Tetap dijaga belum boleh bersin (yang kuat), belum boleh berenang, belum boleh makan eskrim dan yang pedas2, tidak boleh batuk pilek, tidur masih harus miring tidak boleh nekan telinga yang dioperasi.

Hari ini baru kontrol kedua. Alhamdulillah walau masih ada lubang kecil setelah dilihat dari otoskop, saya ga panik. اَللّٰهُ memberi ketenangan.. semoga bisa nutup sendiri lubang kecilnya. 

Semoga tulisan ini bermanfaat ya… oia biaya yang saya keluarkan hanya biaya rutin atau iuran BPJS tiap bulan 😊

Berhijrah

Merenungkan momentum tahun baru hijriah hari ini, kita ga boleh lupa…akan kisah historis di balik penentuan tahun baru ini. Entah kenapa kebanyakan kita berhura ria ketika datang pergantian tahun masehi, padahal kita ga tau ada cerita besar apa sampai dirayakan sebegitunya. Beda dengan momentum 1 Muharam bagi umat islam, setiap pergantian tahun hijriah (seharusnya) menjadi pengingat peristiwa hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah.

Seandainya Rasul tidak hijrah, mungkin risalah agama ini tidak akan sampai pada kita saat ini. Momentum hijrah Rasul mengawali kemenangan demi kemenangan islam hingga futuh dan islam tersebar hingga kita “tercelup” hidayah ini hingga hari ini. Hijrah adalah peristiwa terbesar dan istimewa! 

Sayang kalau dilalui biasa aja.

Jadi untukku, hari ini adalah momentum untuk memulai berhijrah dari posisi saat ini menuju ‘kemenangan-kemenangan’ lain yang ingin kuraih. Karena hidup adalah perjalanan dari satu kisah ke kisah yang lain, maka hari ini, kisah baru dimulai 🙂

Hari ini pula adalah momentum untuk berhijrah dan memperbaiki diri, ‘pergi’ meninggalkan kebiasaan buruk kita menuju kebiasaan yang lebih baik, ‘pergi’ meninggalkan segala hal yang menjauhkan diri dari Allah menuju segala hal yang mengundang ridho Allah. Beurat ya.

Masih berkaitan dengan kisah hijrahnya Rasulullah saw. Bagaimana beliau berikhtiar merencanakan dengan sangat rapi dan cerdas agar hijrahnya tidak diketahui musuh. Sampai pertolongan Allah datang ketika beliau dan Abu Bakar ra bersembunyi di gua tsur. Qs Al Anfal 30, QS At Taubah 40.  

Dari kisah itu aku memahami sesuatu; ikhtiar adalah wilayah kerja kita, sementara tawakal adalah wilayah kerja Allah. Ikhtiar adalah mengerahkan seluruh potensi akal dan kemanusiaan kita, sementara tawakal ada di atas semua ikhtiar, ketika tidak ada lagi akal setelah segala ikhtiar dilakukan. Artinya, hasil dari ikhtiar dan pertolongan Allah datang ketika kita sudah mengerahkan seluruh potensi terbaik kita. Mulai dari perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang sempurna (dalam penilaian manusia). I got it! Kita harus selalu high standard dalam ikhtiar, dan menundukkan kepala atas segala hasil. Itulah kenapa muslim harus cerdas, harus terus belajar, harus terus berpikir dan cari akal untuk melaksanakan semua rencana..baru deh berhak mendapatkan pertolongan Allah T.T

Ini berlaku (untukku) dalam semua lini kehidupan, dalam bekerja, dalam berumah tangga, dalam mendidik anak (nanti), dalam bermasyarakat, dalam belajar, dalam berda’wah…

Menuntut dan melakukan dengan sempurna itu harus, selama itu wilayah kerja manusia. Dan pertolongan Allah hadir saat kita sebagai manusia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Selamat berhijrah 🙂

Selamat tahun baru 1437 H.

Di Atas Tanah

Kamu tahu..

Kita hidup di sebuah tempat bernama bumi, di atas tanah di tempat dari mana kita berasal dan di tempat ke mana kita akan kembali. 

Kita hidup bersama makhluk bernama manusia, bukannya malaikat. Dari mata terbuka hingga terpejam kembali, yang kita jumpai adalah manusia, bukan malaikat. Dan kita manusia, bukan malaikat.

Kita hidup di alam dunia, yang fana dan penuh dengan segala macam persoalan, kemudahan, kesulitan, kebahagiaan, kesedihan, takut, gelisah, ancaman, dan lain-lain, bukan di surga, tempat yang tidak ada kesulitan, tidak ada kesedihan, tidak ada permusuhan, tidak ada kekecewaan, tidak ada rasa takut, dan lain-lain. Kedua tempat ini nyata, tetapi sekarang kita berada di alam dunia.
Terkadang manusia lupa. Berada di atas tanah yang sama, tetapi bersikap seakan yang satu di langit yang lain di bumi. 

Rindu rasanya….jika mendengar kisah Rasulullah saat kedua kaki beliau masih menapak di atas tanah bumi ini. Bahkan kemuliaan yang diberikan Allah pada beliau, tidak membuatnya lupa hakikat dirinya sebagai manusia. 

Hak beliau sesungguhnya, sebagai kekasih Allah, dikelilingi dan dicintai para malaikat, untuk membalas semua kejahatan manusia yang tidak menerima beliau. Akan tetapi pilihan beliau adalah tetap mencintai mereka, dan mengharapkan lahir manusia yang shalih dari tulang sulbi mereka. Indah, ya..?

Ia Sang Pencipta

Allah Yang Maha Menciptakan, jangan pernah lupa.. Setiap janin yang tumbuh, setiap bayi yang lahir, semua terjadi atas kehendak Allah. Allah berkehendak menciptakan manusia-manusia baru. Entah melalui rahimku atau siapapun, tetapi semua yang lahir adalah milik Allah Subhanahu wata’ala.

Allah yang meniupkan nafas, Ia pula yang mengakhirinya. Setiap janin yang tumbuh, Allah pula yang menghendakinya tumbuh. Pun saat janin tidak tumbuh, semua kehendak-Nya bukan? Allah akhiri kehidupannya

Di masa satu tahun saya menunda memiliki keturunan ini saya banyak sekali belajar dari beberapa orang teman/kisah dari bacaan..tentang mereka yang hamil, melahirkan, keguguran sampai 3 kali, ada yang harus menunggu hingga 10 tahun, 13 tahun, ada yang divonis ga bisa punya anak lagi, ada yang harus merasakan sakitnya induksi lalu caesar (katanya sakitnya 2x lipat dari normal), hingga ada yang meninggal saat melahirkan.. Semua menyadarkan saya kembali akan makna penciptaan. Dasar manusia ya..baru ingat ketika diingatkan dgn kejadian-kejadian, harus nunggu ada yang terjadi dulu >.<

Don't ever be worry, darl. Allah Tahu, Allah Maha Tahu..bahkan saat kita tidak mengerti mengapa Allah menimpakannya pada kita. Allah Maha Tahu. Allah Mendengar..setiap rintihan hati penuh harap, Dia Sungguh-Sungguh Mendengar..bahkan di saat kita tertidur dan memimpikan harapan-harapan itu, Ia Sungguh Mendengar. Allah Memperhatikan, Maha Memperhatikan..setiap jiwa yang bersiap-siap memantaskan diri, dengan Penuh Perhatian Allah Mengetahui.. Tidak perlu khawatir. Semua terjadi memang karena kehendak-Nya, tidak apa-apa. Siapa kita yang ingin kehendak kita terwujud?? Allah yang berhak, cuma Allah yang berhak. #talktomyself

Saya hanya bisa bersiap.. Memohon kepada Allah untuk menciptakan hamba-Nya melalui rahim saya, menyiapkan rahim terbaik tempat makhluk Allah dititipkan. Saya harus selalu ingat bahwa kelak ia bukan makhluk siapa-siapa, tetapi makhluk Allah..Yang Maha dari segala Maha. Aku belajar dari banyak orang tentang bagaimana mereka menjaga janinnya..bagaimana mereka menjaga fitrah seorang hamba Allah bahkan sejak hamba itu belum terlahir kedunia. Ada yang menjadi hafidzah saat mengandung, bahkan ada yang sebelum mengandung. Ada yang belajar selama mengandung. Ada yang menjaga makanan dan minumannya. Wah masyaaAllah, banyak..dan semua terlihat indah (keliatannya indah ^^) wallahua'lam.

Saya dan Tarbiyah

Hal yang paling saya ingat di hari pertama saya sekolah di SMA 3 Bandung adalah quotes yang dipasang di dinding lorong gedung lama, lorong menuju kelas sepuluh satu.
Don’t ever say “God, i have a big problem, but try to say “Problem, i have a big Allah.”

Nuansa ketuhanan yang kental bisa saya rasakan sejak saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bingklas (pembimbing kelas) yang selalu membacakan ayat Al Qur’an dan memberikan tausiyah menjelang bel pelajaran dimulai. Sangat menyejukkan.

Hari jum’at pertama, setelah bel pulang dibunyikan. Para siswi dikumpulkan di aula untuk pembukaan Explosif (Explore Islam with Fun –lupa kepanjangannya apa). Tidak ada yang terlalu berkesan bagi saya, tetapi pasca kegiatan itu saya dan beberapa orang teman dikelompokkan dengan satu teteh pembimbing, yaitu Teh Rahmi. Di hari pertama pertemuan yang dinamakan mentoring itu saya diminta untuk memberi testimoni tentang ‘Apa itu Islam’ dan sejak saat itu perjalanan tarbiyah saya dimulai.

Sekarang, ketika saya menyebut kata ‘tarbiyah’, hati terasa bergetar. Saya teringat perjalanan bersama tarbiyah sejak tahun 2006 dan saya merasakan bahwa inilah jalan yang saya cintai dan semoga tidak akan pernah saya tinggalkan sampai akhir hayat. Saya tidak mengerti bagaimana caranya ‘tarbiyah’ ini menghipnotis saya sehingga saya cenderung menjadi sering menolak kegiatan-kegiatan lain yang menjauhkan saya dari Allah dan memberikan rasa nyaman luar biasa saat bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa saya temui di lingkaran tarbiyah ini. Saya pun tidak mengerti bagaimana caranya tarbiyah merasuki pikiran saya sehingga saya merasa harus selalu mengikuti agenda-agendanya, rupanya saya sudah ketagihan dan saya merasa ini menjadi kebutuhan dasar saya, sama dengan kebutuhan saya akan makan dan pakaian.

Lambat laun saya bahkan memahami bahwa semua perjalanan hidup saya adalah tarbiyah, semua kejadian membuat saya belajar. Saya dilahirkan, kemudian mengenal orang tua, keluarga, teman, guru, suami, mertua bahkan malaikat, jin, tumbuhan, dan hewan membuat saya banyak belajar. Pun dengan kehadiran murabbi, binaan, dan teman-teman satu amanah dan halaqoh, semua menjadi sarana tarbiyah bagi saya.
Kehadiran seorang murabbi, bagi saya, menjadi kebutuhan saya setelah kehadiran orang tua. Meskipun orang tua saya belum memahami islam sebanyak keingin-tahuan saya tentangnya, saya merasakan bahwa dengan cara itulah Allah mentarbiyah saya sehingga saya mandiri untuk mencari tahu. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah karena diberi orang tua yang begitu memberikan saya keleluasaan untuk belajar dari manapun, memberikan kepercayaan penuh kepada saya, selalu mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi saya. Saya ingat bagaimana orang tua saya menyekolahkan saya di TPA (Tempat Pembinaan Agama) sejak saya masih di Taman Kanak-kanak, mendatangkan guru ngaji ke rumah, menyekolahkan saya di SMA Negeri 3 Bandung. Hingga kemudian Allah mempertemukan saya dengan tarbiyah yang hampir selalu sepaket dengan kehadiran seorang murabbi. Saya merasakan bagaimana murabbi itu menjadi role model islam bagi saya, jika kebanyakan majelis ta’lim itu berisi teori-teori, maka melalui murabbi lah saya melihat atau mengetahui bagaimana islam itu diaplikasikan atau minimal beliau memberi arahan. Sungguh mulia peran murabbi bagi saya, semoga Allah memuliakan mereka di dunia dan di akhirat.

Perjalanan tarbiyah saya tidak lepas dari peran para murabbi. Di luar perannya secara psikologis bagi binaan, di mana murabbi membuat binaan merasa nyaman dengannya, murabbi merupakan pembimbing sekaligus pemimpin yang mengarahkan binaannya agar tetap berada di jalur islam yang benar. Murabbi pula lah yang memastikan keberjalanan tarbiyah binaannya. Saya merasa bahwa panjangnya perjalanan tarbiyah yang saya lalui salah satunya adalah karena keterikatan hati dengan murabbi dan penjagaan yang beliau lakukan kepada saya sebagai salah satu binaannya. Saya merasa tumbuh dan berkembang karena perawatan yang dilakukan oleh para murabbi saya selama ini. Semuanya.. Sejak awal saya mentoring tahun 2006, kemudian diganti tahun 2007, lalu dipertemukan dengan yang baru lagi tahun 2008 dan 2009, dan yang terlama setelah itu yaitu tahun 2010-2013, dan diganti lagi tahun 2013 lalu hingga saat ini tahun 2014 saya masih bersama beliau. Mereka membentuk saya.. MasyaaAllah. Semoga Allah selalu mengikat hati kami untuk tetap istiqomah di jalan ini.

Tarbiyah yang saya terima sejak SMA, tidak disadari telah membentuk hampir 80% diri saya saat ini. Hal ini dirasakan pula oleh orang tua dan keluarga besar saya, bahkan mereka lambat laun juga mulai mencintai tarbiyah. Begitu pula dengan pernikahan saya, tarbiyah lah yang telah mempertemukan saya dengan suami sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk tidak membentuk keluarga dan mendidik anak-anak kelak dalam nuansa tarbiyah. Tarbiyah telah sangat berjasa bagi saya.

Tarbiyah membuat saya selalu merasa bertemu dengan Allah, baik ketika pertemuan rutin pekanan, agenda tarbiyah yang lain maupun pertemuan-pertemuan informal dalam rangka tarbiyah, semua membuat saya ingat kepada Allah. Karena saya tidak mungkin meninggalkan Allah, maka insyaaAllah saya juga tidak akan meninggalkan tarbiyah. Seperti inilah tarbiyah mengajarkan saya, tentang bagaimana kita terus mencari Allah.

My 23

Dan segala puji bagi Allah, hanya bagi Allah.
Di usia saya yang hampir masuk tahun ke-23, saya sudah berstatus sebagai istri, jadi bertambah peluang saya mendapatkan pahala ^^. Setahun yang lalu saat usia 22 tahun, saya telah mengalami fase yang (menurut saya) berat..mengambil keputusan besar, yaitu menikah, menyelesaikan studi sarjana, dan menambah jumlah ayat yang dihafal.

Saya yakin bahwa Allah yang mengatur pertemuan kami hingga akhirnya saya memutuskan menjadikan dia sebagai imam, itu ada dalam skenario Allah. Maka seraya beristighfar saya harus terus menyadarkan diri ini bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada Allah untuk dihisab, maka perjalanan saya sejak memutuskan menikah hingga kini menjadi istrinya pun akan dipertanggungjawabkan. Pun menjadi seorang sarjana, dan menambah satu dua ayat yang dihafal, semua harus dipertanggungjawabkan 😣

Kini di usia 23 tahun, saya masih mempersiapkan diri..menjadi seorang ibu. Peran ini tentu bukan peran asal yang bisa kita ambil, suami selalu membimbing saya untuk berpikir panjang. Tapi ini tahapan yang harus dilalui (jika Allah menghendaki) oleh setiap pasangan yang berniat membina rumah tangga. Saya perlu jujur, ada rasa takut menjadi ibu..di sisi lain ada rasa bangga bahwa wanita yang menjadi ibu itu begitu mulia, dikatakan sebagai sekolah bagi para pewaris bangsa.. Hummm, tapi kita dilarang untuk berbangga diri. Lebih baik merasa mawas diri, kan? Meski takut, tentu jika Allah takdirkan saya kelak jadi ibu saya harus menerimanya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, bukan hanya sama ayahnya anak-anak, tetapi tanggung jawab sama Allah. Hiks hiks..

Saya jadi ingat kajian waktu i’tikaf Ramadhan kemarin, ada 5 amanah seorang ibu: 1. Mengandung, 2. Melahirkan, 3. Menyusui, 4. Mengasuh, dan 5. Mendidik dan membesarkan. Kelima amanah itu bukan sebatas arti katanya aja ya, ada maknanya.. Tepat setelah Allah pertemukan dua sel (ovum dan sperma), lalu atas izin Allah sel-sel itu membelah, tertanam di rahim, kemudian tumbuh dan Allah tiupkan ruh..maka pada saat itu, hidup seorang manusia baru, seorang hamba Allah di rahim ibu..dan berlakulah kewajiban-kewajiban orang tua kepada anaknya. Berat ya? 😣 tapi beliau (ustadzah yang ngisi kajian tsb) mengingatkan, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan seseorang itu menanggung beban/tanggung jawab. Jadi, luar biasa kuatnya ya seorang ibu mengemban amanah sebesar itu..belum lagi amanah dia sebagai istri.. Belum lagi kalau dia dapet amanah di lingkungan rumah atau kerjanya.. Subhanallah.. Saya berdoa untuk seluruh ibu di dunia, semoga kelelahan mereka berbuah surga..dan doakan saya agar kelak kuat mengemban amanah mulia ini ya.

Sekali-kali kita memang perlu refleksi..menyadari bahwa hidup tuh ga mudah. Baru setelah itu, dijalani dan dinikmati..supaya Allah tambah lagi nikmatnya. Alhamdulillah kita ga sendiri menjalani beratnya peran ini, ada suami di sisi yang selalu siap menemani 😉

Maka di hari terakhir tahun ke-22 hidup saya ini, selain refleksi, introspeksi, juga mengazamkan diri..bercita-cita menjadi A, artinya siap mengemban semua konsekuensi menjadi seorang A. Semoga Allah kuatkan.

-Irma Sartika, 22 y.o., Ilham Arif Nasution’s wife. Bismillah…