Pelajaran Dua Menit

Belum pernaah kaan ngerasain ga boleh ikut UTS karena telat dua meniiit? Saya pernah, hiks. Rasanya? Nyesek sih.. dikit, tapi setelah itu tersadar banyak haal banget yang mungkin ga akan saya sadari kalo saya dibolehkan ikut tanpa hukuman. Satu, mau ga mau harus sadar bahwa dua menit itu berharga banget (yaelah, baru nyadar setelah ada teguran, that’s human). Ketika sudah berkomitmen, jalani komitmen itu dengan sebaik-baiknya. Dua, harus sadar ada masanya ketika mendidik seseorang harus ada komitmen walau harus merasakan sakit yang dalam. Kadang seorang ibu harus membiarkan anaknya merengek-rengek sampe cape sendiri ketika ingin dibeliin es krim padahal dia lagi batuk atau ketika ingin nonton tv di luar jam yang disepakati (that’s education). Tiga, harus paham hidup ini bukan tentang diri kamu sendiri.. oke aja kamu bilang itu cuma kuliah, bagian kecil dari hidup di dunia ini yang kecil juga dibandingkan akhirat.. boleh bilang gitu, kata mamah, kalau kamu hidup untuk dirimu sendiri..tapi masalahnya urusan kuliah itu bukan cuma urusan kamu sama Allah aja. ada orang tua yang juga harus dihargai jerih payahnya mencari uang untuk menghidupi anak-anaknya dengan nutrisi terbaik. ada juga dosen yang harus dihargai jerih payahnya karena memberi pengajaran sedemikian rupa untuk kebaikan mahasiswanya. ada juga tangan-tangan rakyat yang sebagian haknya disumbangkan untuk biaya kuliah mahasiswa (hmmm). Empat… lima…. enam…. sepuluh…. seratus…. ya. banyak

No worries… I’m fine.. :)
Meskipun nyesek harus merelakan hari yang ditunggu-tunggu tiba berlalu begitu saja..

It’s life… Full of story…

Ga ada kejadian yang luput dari perhatian Allah..ga ada. Pun kejadian seekor semut yang lagi nguap atau seekor bakteri yang lagi gosok gigi, pasti Allah tau. Dan segala yang terjadi karena izin Allah, pasti ada kebaikan di dalamnya. Cheers!

Leadership

Gambar

Leadership is not magnetic personality, that can just as well be a glib tongue. It is not “making friends and influencing people”, that is flattery. Leadership is lifting a person’s vision to higher sights, the raising of a person’s performance to a higher standard, the building of a personality beyond its normal limitations.” (Peter F. Drucker via Teh Hasnah)

“Whether male or female, the credentials required to be a leader are the same: understand what makes people tick and inspire them to work with their strength and (bypass) their weaknesses” (Denise)

“A leader is someone who knows the way, goes the way, and shows the way” (LKS LIV)

“AI-Barra’ berkata, “Saat menggali parit, di beberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau datang, mengambil cangkul dan bersabda, “Bismillah …. Kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, ”Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang bercat merah saat ini.” Lalu beliau menghantam untuk kedua kalinya bagian tanah yang lain. Beliau bersabda lagi, ”Allah Maha Besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah, saat ini pun aku bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih. ” Kemudian beliau menghantam untuk ketiga kalinya, dan bersabda. “Bismillah …. ” Maka haneurlah tanah atau batu yang masih menyisa. Kemudian beliau bersabda, “Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a’.” (Sirah Nabawiyyah)

Manny, Peran yang Tak Sekedar Peran

izinkan saya mengutip kata yang selalu menginspirasi saya, dari sebuah buku biografi seorang Ahmadinejad:

“ada sebagian orang yang diberi kelebihan. Pengaruhnya lebih luas dari tempat yang didiami. Perannya lebih besar dari gelar yang disandangi. Daya tariknya tidak bisa dibatasi atau dihentikan, dan impiannya setinggi langit dan seluas lautan.“

Gambar

 Manny, bocah berwajah bulat berpipi merah setiap pagi menyapa tetangga ditemani Pat, Turner, Rusty, Felipe, Stretch, Squeeze, Dusty, Flicker, dan Beamer. Saya suka liat mereka hampir setiap pagi, akan selalu setiap pagi kalo aja bukan karena kuliah :( Mereka memiliki peran masing-masing, Pat si palu yang cerewet, Turner si obeng kepala rata yang sering saingan sama Felipe, Rusty si kunci inggris, Felipe si obeng filips yang selalu merasa penting, Stretch si meteran yang cerdas, Squeeze si tang, Dusty si gergaji tangan yang bijaksana, Flicker si senter dan perkakas termuda, dan Beamer si laser. Semuanya memiliki peran masing-masing. Saya paling suka liat si perkakas loncat-loncat setiap ada kerjaan, mereka paling suka kalo ada alat yang rusak atau rumah berantakan. Paling sering adalah membantu Pa Lopart, pemilik toko permen yang ada tepat di sebelah bengkel Manny, selalu bahagia bersama kucingnya si Fluffy..tadi pagi episod bantuin Pa Lopart masang lampu gantung.

Tadi siang saya ke PSB 2012 bareng sama Juan. Bertemulah saya dengan kakak-kakak 2007, teriak-teriak “Ma, dicariin tuh Ma sama ini nih” Setelah diliat si “ini”nya itu, ternyata temen SMA saya…mantap Aghnia Nabila, dia ada di koran satu halaman penuh hehe. Tentu bukan karena dia salah satu tokoh yang memerankan perkakas baru di film Handy Manny -___-”, tapi karena dia punya peran dan berhasil dengan perannya, as well as Manny and his friends. Koran itu mengupas prestasi Bila, di bisnisnya juga di kuliahnya. Subhanallah! sungguh Allah menganugerahi kelebihan pada dirinya, saya baca CVnya…perannya konkret. dan emang pas ngobrol sama Bila, hampir selalu dia bilang “konkret”!

Bener ya..ada orang-orang yang diberi kelebihan dengan perannya yang jauh lebih besar daripada gelar yang disandangnya.. Ada banyak sekali pelajaran dari setiap orang yang kita temui. Peran Mang Becak yang suka jemput Seno & Nayya dari TK atau peran Mas Mie Ayam yang tiap hari ditunggu-tunggu atau juga peran bapak saya yang meski kecil tapi saya sangat berbangga juga tentu saja -first thing of the first- para ibu rumah tangga yang istiqamah berperan sebagai istri sekaligus ibu. Mereka memiliki peran masing-masing yang membuat dunia ini seimbang, tidak kekurangan dan tidak kelebihan.

Apa mudah menjalani peran itu? Saya yakin Manny pernah mengalami keadaan buruknya di bengkel atau Nabila yang saya tau, dia sejak tahun 2008 mulai jual L’risole-nya dan lain-lain. Tapi yang saya liat, mereka yang tangguh, yang kuat, yang konsisten, yang rendah hati, yang sabar…punya kelebihan daripada yang lain. Mereka yang fokus pada perannya, memiliki tahta-nya sendiri sebagai manusia yang berhasil menemukan misi hidupnya. Mereka, orang-orang tangguh yang tau bahwa hidup ini akan berlalu dan PASTI setiap orang diberi misinya masing-masing sebelum mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka, orang-orang sabar yang tau misinya tidak dapat dicapai dengan diam dan duduk-duduk saja. Mereka, orang-orang tawadhu yang tau bahwa semakin besar perannya, semakin dia butuh kekuatan untuk berdiri. Mereka itu yang diberi kelebihan..yang perannya lebih besar dari gelar yang disandangi dan pengaruhnya lebih luas dari tempat yang didiami.

everybody has her/his own mission. That mission is not just like playing role as her/his title “doctor” or an “engineer” or a “manager”, moreover it’s about a role and contributions.

Sebuah lagu jadi backsound tulisan ini:

When you try your best but you don’t succeed

When you get what you want but not what you need

When you feel so tired but you can’t sleep

Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face

When you lose something you can’t replace

When you love someone but it goes to waste

Could it be worse?

Lights will guide you home

And ignite your bones

And I will try to fix you

And high up above or down below

When you’re too in love to let it go

But if you never try you’ll never know

Just what you’re worth

(Coldplay, Fix You)

Nyundul

Sabtu lalu saya ikut suatu forum, tamu yang diundang untuk berbicara adalah seorang anggota DPR-RI komisi berapa gitu lupa.. Intinya tentang pergerakan mahasiswa nih. Temen yang duduk sebelah saya nanya, “kamu tertarik bidang politik ya?” Wah bingung deh. Buat saya, melek politik itu penting.. saya ga mampu untuk mengkaji apa kebijakan ini tepat ato ga, ga paham. Yang jelas, saat itu bicara tentang aspek kemanusiaan, aspek kehidupan, itu jadi penting.

Contohnya kasus BBM naik ini. Temen-temen saya di kabinet mengkaji untuk mengambil sikap dan merasionalkan sikap mereka. Yap, mereka memang kapabel untuk itu. Saya? Saya cukup tau, banyak rakyat berteriak namun tidak didengar pemerintah, banyak para ibu menjerit saat tau harga bahan pokok akan naik lagi. Saat itu saya tau, pemerintah ga adil. Titik. Saya ga bisa melihat dari sisi yang lebih dalam, saya cukup denger dari tukang ojek yang ada di deket rumah nenek saya atau ayah saya sendiri yang seorang PNS golongan menengah dan dari para nelayan (ini dari koran), mungkin juga dari Mang Dotdot tukang sayur di komplek rumah *sok kenal*. Bagi mereka, kenaikan ini ga adil buat mereka. Mereka ga mau tau apa ini untuk menyelamatkan APBN lah atau untuk memasang “wajah” baik di depan para investor asing, mereka ga tau (ga mau tau), toh mereka ga ngerasa juga dampaknya secara langsung pada kehidupan mereka. Mereka tetep ngerasa beban untuk pendidikan tinggi juga, ini masih belum bicara kualitasnya padahal. Anak-anak jalanan juga masih belum bisa sekolah selayaknya aku sekolah. Padahal kata pemerintah, sekolah sekarang gratis dan alokasi untuk pendidikan 20% dari APBN. Wah jelas aja rakyat ngerasa ga adil, pemerintah menuntut hak rakyat untuk nyelametin APBN dengan dikuranginya subsidi, tapi bahkan rakyat ga merasakan hak mereka dari penyelamatan APBN itu.

Nah nyambung lagi ke pembicaraan hari Sabtu lalu. Pak Akbar bilang bahwa ternyata APBN yang terserap juga cuma 80%. Kalo secara teoritis dari kuliah-kuliah yang diajarin dosen, makin kecil daya serap dana maka makin ga efektif organisasi itu, karena berarti kinerjanya ga maksimal. Beliau malah bertanya-tanya, kemana 20%-nya? Nah loh, Pak SBY, gimana nih? Kemaren Bapak curhat karena posisinya terancam, nah ini nih rakyat curhat didenger juga ya, Bapak… :)

Jangan aneh kalo ada mahasiswa yang bahas-bahas ginian.. tugas kita memang belajar, tapi kita sudah bukan lagi siswa sekolah yang hanya duduk menikmati guru menerangkan.. kita punya porsi di masyarakat. Posisi kita sekarang ini sebagai rakyat sipil, bareng-bareng sama tukang becak, tukang sayur, tukang ikan, tukang ojek, sopir angkot, PNS, dsb..hanya saja kita punya potensi sebagai kaum intelek, kita belajar tentang idealitas, sedangkan di sisi lain kita juga rakyat yang hidup di dalam realitas. Kata Pak Akbar itu, “nyawa bangsa ada di tangan pemuda” jika pemudanya ga bergerak, ya bangsa ini mati. Terus lagi beliau bilang, “Perubahan hanya akan terjadi jika bertemu dua hal: ada orang tua yang bijak dan ada anak muda yang berani”. Mahasiswa itu pemuda bukan?

Jadi maksudku adalah, kita justru harus cerdas sebagaimanapun kita engga minat sama bidang politik. Kita bicara politik atas nama kemanusiaan, bukan lagi soal kekuasaan. Itulah kenapa kita (yang sadar) perlu “nyundul” pemerintah….

99 Cahaya di Langit Eropa

Saya jatuh cinta. Iya saya jatuh cinta sama novel ini. Awalnya hanya subjektivitas saya aja begitu lihat ada kata “Eropa” dan “Islam” di judulnya, dua hal yang membuat saya tertarik di atas apapun! Mulai membaca halaman pertama, ada pengantar dari Pak B.J. Habibie yang saya sukai “kebudayaan dan teknologi selalu berjalan berdampingan, saling mengisi, menentukan masa depan suatu bangsa.” Ada lagi!!

“Berdasarkan pengalaman sejarah dan peradaban umat manusia, yang lebih penting bagi umat Islam sekarang ini tidak lagi sibuk membicarakan keunggulan-keunggulan yang telah dicapai umat Islam pada masa lampau, atau memperdebatkan siapa yang pertama kali menemukan angka nol, termasuk angka satu, dua, tiga, dan seterusnya sebagai sumbangan umat Islam dalam penulisan angka pada zaman modern dan dasar seluruh pembangunan dan peradaban dunia, tetapi bagaimana umat Islam kembali unggul dan menguasai pengetahuan dan teknologi, kembali terdepan dan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dunia, karena prestasi nyata yang ditunjukkannya.” -Bacharuddin Jusuf Habibie.

Ah suka bangett, semakin meneguhkan diri saya yang saat ini sedang belajar di kampus teknologi. Saya, kamu, kita akan menciptakan peradaban, tentu dengan ideologi kita: Islam. Impian ini tidak utopis saya rasa, toh teknologi lah yang menjadi ciri khas suatu peradaban.

Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra (sepasang suami-istri yang telah hidup 3 tahun di Eropa saat menulis buku ini) memulainya dengan menceritakan sejarah Kota Wina tahun 1683, saat Kara Mustafa menyerang Kota Wina namun yang ada hanya kekalahan. Sedih bacanya. Dan di buku ini Hanum juga nyelipin peta dan gambar-gambar hasil jepretannya dari museum di Eropa sana, membuat saya makin merasa berada di situasi yang sama dengan kejadian. Subahanallah.

Hanum banyak menceritakan kekagumannya sama Fatma, seorang Turki yang tinggal di Austria bersama suaminya. Fatma dan teman-temannya yang berasal dari Turki memang merefleksikan jati diri  seorang muslimah, nilai-nilai Islam begitu terlihat dari kesehariannya, bahkan hanya dari sebuah senyuman yang bisa membuat orang jadi mualaf (dalam satu segmen cerita di novel ini, Ezra masuk Islam karena senyuman Latife). This is Islam.

Tentang Kara Mustafa yang diceritakan Hanum dan “curhatan”nya akan lukisan Kara Mustafa di Wien Stadt Museum, sedikit berbeda dengan ekspektasi saya sama Hanum. Entah, di antara lukisan/patung-patung panglima perang yang ada di museum itu, hanya lukisan Kara Mustafa (panglima perang Turki Utsmani) yang digambarkan dengan raut wajah sedih dan tatapan kosong. Membuat janggut, sorban, dan jubah merah elegan yang digunakannya seolah tak bernilai kekuatan apa-apa. Hanya terkesan: kakek-kakek, lemah, gagal. Dituliskan juga oleh sang pelukis, “Kara Mustafa; masyarakat Wina; mengepung; kehilangan; pembunuhan.” Hanum menganggap Kara Mustafa telah melakukan hal yang salah dengan membunuh banyak orang dan memerangi masyarakat Wina saat itu. Islam seharusnya membawa perdamaian. Saya kembali bertanya-tanya, adakah Rasulullah saw tidak memikirkan perdamaian juga sehingga memerangi kaum Quraisy? Kan tidak. Bagi saya, peperangan hanya sebuah metode, bukan sebuah mainstream apalagi ideologi. Berperang adalah bentuk pertahanan diri, karena itu. Bisa jadi Kara Mustafa pun telah melakukan hal yang sama: mempertahankan diri, mempertahankan Islam. Mungkin.. ***koreksi saya***

Di buku ini juga diceritakan tentang sebuah restoran milik seorang Pakistan yang menggunakan prinsip “All you can eat, pay as you wish” alias makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Haha, mustahil ya kayanya? Tapi engga buat mereka pemilik restoran itu! Dia sungguh-sungguh menerapkan dan memahami serta meyakini betul firman Allah, “bersyukurlah kamu maka Aku akan menambah nikmatmu”. Begitulah.. saya malu, jujur aja. Di Indonesia, mana bisa begitu? Ah bahkan di kampus, mana bisa. Teman saya yang nyimpen HP di balik badannya waktu ngerjain tugas, HPnyailang, raib gitu aja.. Hhh kejujuran di negeri saya ini susah banget ditegakkan. BAHKAN OLEH SEORANG YANG DIBERI KEPERCAYAAN MENGELOLA UANG NEGARA DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT aja BISA-BISAnya menistai kejujuran itu! Astagfirullah…Astagfirullah… Sakit hati deh aku :( *beda kultur, kalo kata Hanum… tapi mestinya bisa ya…dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, mestinya bisa –> menegakkan nilai-nilai kejujuran seperti Rasulullah saw Al Amin mencontohkannya. ah kuantitas kadang ga bisa menjadi parameter kualitas…. (caps lock bukan tanda suara meninggi, tapi hanya penakanan makna, bacanya sih dengan nada biasa aja..^^). Oke kecewa memang, tapi saya optimis kok :D

Saya belum baca semua.. tapi rencananya Hanum dan Fatma serta suami mereka, akan jalan-jalan.. pertama ke Cordova (Spanyol) tempat di mana Islam pernah hampir berjaya di sana sebelum akhirnya Perang Salib menghancurkan harapan dan membuat luka yang dalam di hati masyarakat saat itu -hingga banyak yang memilih menjadi atheis, mereka berencana mengunjungi sebuah gereja yang dulunya masjid, juga akan mengunjungi Hagia Sophia yang dulunya gereja dan jadi masjid (yang ini di Turki). Saya ga sabar menuju bagian itu.. Mari bertualang :D
MAKIN INGIN KE EROPA hiksss……… bukan sekedar jalan-jalan apalagi wisata kuliner, tapi untuk menapaki jejak-jejak Islam, untuk kembali mengenang kejayaan -tapi ga cukup lah merasa bangga dengan sesuatu yang telah lalu-, juga untuk mengisi, ya mengisi amunisi untuk bangkit kembali mengulang kejayaan, bahkan bukan hanya mengulang tapi lebih -lebih berjaya dari masa lalu.

Kara Mustafa

Hagia Sophia, Turki

Akulah Orang yang Bertepuk Tangan di Tepi Jalan

Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.
Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati.
Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran.
Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?
Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi,tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti.
Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat.Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.
Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini.
Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.
Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.
Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.
Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing.
Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.
Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.
Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika.
Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.

Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami? Mari kita syukuri apa yg kita miliki, banyak sekali hal2 yg kita miliki namun seringkali kita melupakannya.
——————–
salam,

(copy pasted from milis angkatan)